|
Mbak Prita, saya dan suami adalah pasangan pengantin baru. Sekarang ini pernikahan kami memasuki tahun kedua. Begini Mbak, ada masanya dulu suami saya dikejar-kejar banyak penagih utang karena beberapa kartu kreditnya macet. Peristiwa itu membuatnya trauma pada kartu kredit, lebih lanjutnya lagi alergi pada utang jenis apapun. Hal ini cukup merepotkan ketika saya berniat kredit rumah dan mobil yang adalah kebutuhan mendasar sebuah rumah tangga. Diskusi di antara kami mengenai hal itu sering berujung pada ketegangan, karena saya memilih jalan kredit untuk itu, sementara suami antipati dengan utang dalam bentuk apapun. Suami meminta untuk menunggu sampai uang terkumpul cukup dan membelinya dengan tunai. Lho, itu kan lama sekali. Saya jadi sakit kepala memikirkannya. Bagaimana Mbak Prita, menghadapi pasangan yang trauma kartu kredit begini? Terima kasih. Hamida, Bandung, via email |
|
Read more...
|